Menikmati Masalah

MENIKMATI MASALAH

“Hindari masalah, dan kamu tidak akanpernah jadi orang yang memecahkannya”- Richard Bach

Bagi seekor burung rajawali,
satu-satunya hambatan untuk terbang lebih cepat dan nyaman adalah udara.

Tetapi jika udara itu diambil dan burung tersebut dibiarkan terbang dalam kehampaan tanpa udara, burung rajawali itu segera jatuh ke tanah dan tidak dapat terbang sama sekali.

Hambatan utama yang harus diatasi oleh sebuah perahu bermotor adalah air yang menyentuh baling-baling perahu.
Tetapi jika tidak ada air sebagai penahan, perahu ini justru tidak dapat bergerak sama sekali.

problem solved

Hukum yang sama juga berlaku bagi kehidupan manusia.

Hambatan adalah kondisi yang ‘harus ada’ bagi kesuksesan. Sebuah kehidupan yang terbebas dari hambatan dan kesulitan akan mengurangi semua kemungkinan dan daya sampai ke titik nol.

Larilah dari masalah Anda jauh-jauh,
dan kehidupan Anda akan kehilangan daya kreatif!

Masalah kesehatan yang parah bisa memberikan makna pada dunia pengobatan.

Masalah kekacauan sosial bisa memberi makna pada kebijakan pemerintah.

Kita semua memiliki kecenderungan ingin terbebas dari semua masalah dan tanggung jawab.

Ketika masalah datang, berikanlah makna baru pada permasalahan itu.

Sebuah beban kehidupan yang paling berat adalah pada saat kita tidak memiliki apapun untuk dibawa yaitu AMAL KEBAIKAN.

Tanda-Tanda Kematian

 

 

TANDA-TANDA KEMATIAN

Allah telah memberi tanda kematian seorang muslim sejak 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian.

Tanda 100 hari menjelang ajal :

Selepas waktu Ashar (Di waktu Ashar karena pergantian dari terang ke gelap), kita merasa dari ujung rambut sampai kaki menggigil, getaran yang sangat kuat, lain dari biasanya, Bagi yang menyadarinya akan terasa indah di hati, namun yang tidak menyadari, tidak ada pengaruh apa-apa.

Tanda 40 hari menjelang kematian :
Selepas Ashar, jantung berdenyut-denyut. Daun yang bertuliskan nama kita di lauh mahfudz akan gugur. Malaikat maut akan mengambil daun kita dan mulai mengikuti perjalanan kita sepanjang hari.

Tanda 7 hari menjlang ajal :
Akan diuji dengan sakit, Orang sakit biasanya tidak selera makan. Tapi dengan sakit ini tiba-tiba menjadi berselera meminta makanan ini dan itu.

Tanda 3 hari menjelang ajal :
Terasa denyutan ditengah dahi. Jika tanda ini dirasa, maka berpuasalah kita, agar perut kita tidak banyak najis dan memudahkan urusan orang yang memandikan kita nanti.

Tanda 1 hari sebelum kematian :
Di waktu Ashar, kita merasa 1 denyutan di ubun-ubun, menandakan kita tidak sempet menemui Ashar besok harinya.
Bagi yang khusnul khotimah akan merasa sejuk di bagian pusar, kemudian ke pinggang lalu ketenggorokan, maka dalam kondisi ini hendaklah kita mengucapkan 2 kalimat syahadat.

Sahabatku yang budiman, subhanAllah, Imam Al-Ghazali, mengetahui kematiannya. Beliau menyiapkan sendiri keperluannya, beliau sudah mandi dan wudhu, meng-kafani dirinya, kecuali bagian wajah yang belum ditutup. Beliau memanggil saudaranya Imam Ahmad untuk menutup wajahnya. SubhanAllah. Malaikat maut akan menampakkan diri pada orang-orang yang terpilih. Dan semoga kita menjadi hamba yang terpilih dan siap menerima kematian kapanpun dan di manapun kita berada. Aamiin.

 

 

Pelayananmu Adalah Reputasimu

Siapa pernah mendapat pelayanan BURUK dalam mendapat suatu jasa atau produk ? Pastilah hampir semua orang pernah merasakannya. Tidaklah mengenakan ketika hal tersebut terjadi, terlebih ketika suasana hati si konsumen sedang tidak baik. Wah….

Berbicara mengenai PELAYANAN, saya sangat mengeratkannya dengan REPUTASI dalam bisnis / pekerjaan. Mengapa tidak, pelayanan dapat menjadi cerminan apakah suatu bisnis / pekerjaan itu baik atau tidak. Dengan pelayanan yang baik bahkan memuaskan, tentunya dapat membuat citra bisnis / pekerjaan tersebut menjadi lebih baik lagi. Hal tersebut tentunya akan berujung kepada loyalitas konsumen yang semakin besar.

Jadi, jika Anda mempunyai bisnis atau sedang bekerja ingatlah bahwa pelayanan adalah “cover” yang menjadi citra dari pekerjaan yang sedang Anda lakukan.

” Tiada kepuasan maksimal konsumen tanpa pelayanan yang cepat dan mudah. ”

@DandyKurniadi

Kemacetan Membuang Waktu

Siapa yang tinggal di Jakarta ? Percaya atau tidak, 70% penduduk Indonesia tinggal di Jakarta. Waw ! Suatu hal yang luar biasa menurut saya. Betapa tidak, hal inilah yang membuat Jakarta menjadi MACET. Semua orang tumpang tindih di jalan raya untuk mencari sesuap nasi dan segenggam berlian (cieeeeh).

Rasanya kemacetan ini sudah menjadi hal yang sangat klasik di Jakarta. Hal yang sangat disayangkan adalah kemacetan membuang waktu kita semua. Coba Anda bertanya kepada diri sendiri,

” Berapa jam dalam sehari saya terjebak macet ? ”

Sejauh saya bertanya kepada teman-teman saya yang bekerja di Jakarta, rata-rata mereka menjawab 1-3 jam dalam sekali jalan. Belum jika mereka pulang bekerja, bisa genap 3 sampai 5 jam sehari mereka terjebak macet yang membuang waktu kehidupan mereka.

Jadi, sampai kapan kemacetan membuang waktu kita semua ? Apakah teman-teman semua terus saja berharap kepada pemerintah untuk mengatasi kemacetan ini ?
Lalu, apakah yang sudah Anda lakukan untuk mengurangi kemacetan ? Beranikah Anda mengajak teman-teman 1 kantor Anda untuk membuat 1 hari dalam 1 minggu untuk memakai kendaraan umum ?

” Tidak akan ada perubahan tanpa perbuatan yang dilandasi keyakinan.”

( @DandyKurniadi )

Berikan 100% Ketulusan Anda

Seorang bocah lelaki dan perempuan sedang bermain bersama. Si bocah lelaki menggenggam kelereng, sementara si bocah perempuan mengenggam kembang gula.

Bocah lelaki itu berkata pada bocah perempuan untuk saling bertukaran antara kelerengnya dengan kembang gula. Si bocah perempuan setuju-setuju saja. Hanya saja, dalam pertukaran itu si bocah lelaki menyimpan satu kelereng yan
g paling bagus. Sementara si bocah perempuan dengan tulus menyerahkan semua kembang gulanya seperti yang ia janjikan.

Malam itu, si bocah perempuan tidur dengan nyenyaknya. Berbeda dengan si bocah lelaki yang tidak bisa tidur dan bertanya-tanya, kembang gula apa yang disembunyikan si bocah perempuan. Ia berpikiran begitu karena mengira bocah perempuan sama seperti dirinya.

Apa yang bisa diperoleh dari cerita ini?

Jika kita tidak seratus persen tulus dalam berhubungan dengan orang lain, kita akan selalu ragu-ragu apakah orang lain akan sama memberikan seratus persen juga.

Hal ini berlaku dalam setiap relasi, entah itu kasih sayang, hubungan kerja, pertemanan, dan lain-lain. Berikan seratus persen ketulusan dan Anda akan tidur dengan nyenyak.

Orang Bodoh Di Jalan

Sering sekali saya dibuat kesal sendiri oleh orang-orang yang tidak tertib dijalan. Hal ini mungkin disebabkan juga karena SIM mereka yang kebanyakan “nembak”, sehingga mereka tidak paham arti dari SIM tersebut.

Percayakah Anda, ada atau tidaknya rambu lalu lintas atau pun peraturan terkait tentang lalu lintas dijalan bukan menjadi penggerak utama seorang pengendara di jalan menjadi pengemudi yang baik dan benar ?

Tak usah berbicara mengenai negara lain yang sistem lalu lintasnya yang sudah lebih maju dan lebih “galak”. Di Indonesia sendiri masyarakatnya masih banyak yang “bodoh” mengenai peraturan di jalan. Malah yang lebih ironis, ada yang sudah tahu tapi pura-pura bodoh.

Contohnya seperti lampu lalu lintas yang menjadi warna merah di perempatan jalan. Tidak sedikit yang masih nekat untuk terus maju dan seenak jidat mereka bergerak. Mungkinkah mereka tidak mengerti apa arti dari lampu merah ??

Jadi, sayapun akhirnya menjabarkan sendiri beberapa kriteria orang “bodoh” dijalan itu :

1. Mengklakson pengendara di depannya yang berhenti karena lampu lalu lintas berubah merah. Terlebih pengendara yang memakai mobil dan orang di depannya adalah pengendara motor. Kadang mereka dengan tidak sopan membunyikan klakson agar motor itu jalan, padahal si supir mobil tahu bahwa saat itu lampu sedang merah. Sangat egois dan bodoh.

2. Parkir di tepi jalan yang ada rambu bertuliskan “P dengan tanda miring”.

3. Berhenti di tepi jalan yang bertuliskan “S dengan tanda miring”.

4. Memakai knalpot yang sangat berisik.

5. Masih memakai motor butut. Sebenarnya tidak apa-apa, tapi yang sangat disayangkan kebanyakan dari pemakainya juga bertindak “butut”. Secara mereka tidak menjaga kondisi mesin dan knalpot yang mengeluarkan asap yang sangat tebal dan bau. Terlebih kadang sambil merokok. Hmm….

6. Memakai HANDPHONE ketika sedang berkendara. Nah, hal ini yag paling sangat krusial saat ini. Terlebih banyak sekali pengendara motor yang sering sekali saya lihat. Tidakkah mereka berpikir nyawa mereka yang jadi taruhannya ketika melakukan hal tersebut ?

Saya rasa 6 hal itu sudah cukup mempresentasikan mengenai kelakuan bodoh pengendara di jalan yang bisa dibilang egois dan tidak beretika. Pun jika Anda pernah pergi ke Singapura, lihat saja sendiri sistem tranportasi dan etika pengendara disana. Sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan negara kita.

” Jalan raya ibarat nadi, pengendara ibarat darah bersih dan kotor yang perlu dijaga dan dibuang. “

(@DandyKurniadi)

ShabuStreet di Jakarta

Cari makanan enak di Jakarta ? Yuk coba mampir di ShabuStreet. Klik saja www.ShabuStreet.com

Alamat :

Wisata Kuliner Pecenongan
Jl. Pecenongan Raya
Near Red Top Hotel

You Got What You Paid

You Got What You Paid

This sentence remembering me about something that always connecting about MONEY. Whether is wrong or right, there’re so many people who want to get everything perfectly but he does not want to pay full or feeling so stingy to appreciating someone or team skill and experience to fulfill his want.

 

” Pay less, do More”

Is that fair for business ? If we are seeing from the customer mind, i’m sure there’s so many people who want it. For the example if you want to your own dream house. Then you hire some architect and developer for build and make your dream house being real. Your dream house is so beautifull and amazing. To build that house, it’s need a lot of skill and professionalism of experience. So, are you still thinking you will pay that architect and developer with cheap price but they MUST do the BEST for the result of your dream house ?

Don’t you think they’re concentrating just for your dream house ?

They pending their family day because you have a deadline for them. They spend their precious time for a full day just for fulfill your dream house.

They should defrayed their family, don’t you think ?

They invest a lot of money just to have a lot of knowledge for upgrade their skill, how do you think ?

Hmm…Which one is more important for you, your TIME or your MONEY ??

Maybe it can’t be compared, but i’m sure all of you will choose TIME if you have a lot of money 🙂

Because what ? Because your time with family and all of the people who do you love most is more important than your money at the end 🙂

So, if you want to make people happy just for the basic, you can pay them as same as their result. If they work is PERFECT or even beyond your expectation, will you pay them more ? Vice versa.

 

@DandyKurniadi

 

 

Hidup Adalah Perjuangan | Quote Motivasi

” Tidak ada hal tidak bisa kita lakukan jika kita mau untuk bisa melakukannya.”

Berjuanglah untuk hidup Anda karena dunia ini akan keras jika Anda ‘lembek’ dalam berjuang untuk meraih hidup yang BAHAGIA sejahtera 🙂

@DandyKurniadi