Layangan Harapan

Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan sebuah benda yang dulu saya suka mainkan. Sebuah layang-layang yang sering dimainkan di angkasa. Rasanya sayapun ingin menulis tentang sebuah tema yang berkaitan dengan layangan ini. Sebuah permainan tradisional yang sampai saat ini masih banyak digemari oleh banyak orang tidak hanya di Indonesia, bahkan juga di dunia.

Saya menganalogikan layangan disini sebagai sebuah impian. Ketika kita memilih ‘layangan’ apa yang akan kita terbangkan, berarti kita harus sudah siap mengudara. Membuat mimpi (layangan) berada di tempatnya, yaitu langit kenyataan yang sungguh luas.

Ya, kita dapat membayangkan ketika kita membeli sebuah layangan. Sebelum membeli layangan tersebut, kita mengkeplek-keplekan (duh saya bingung bahasanya :D) terlebih dahulu si layangan untuk mengetes apakah bagus apa tidak. Lalu kita memlilih mau yang sebesar apa layangannya. Kemudian setelah layangan tersebut sudah kita pilih, kita pun membuat tali kama untuk layangan tersebut agar dapat terbang dengan sempurna serta dapat kita kendalikan dengan baik. Lalu pada akhirnya layangan itu dapat terbang di angkasa.

Benar, ternyata layangan itu laksana mimpi yang harus kita punya. Setiap mimpi pasti akan menyimpan harapan tersendiri bagi sang pemimpi tersebut. Layangan harapan harus segera mereka pilih untuk menyongsong masa depan mereka, yaitu angkasa yang luas, langit biru dimana layangan harapan lain sudah membumbung tinggi mencapai tujuan mereka.

Bagaimana dengan Anda ? Sudahkah memilih IMPIAN ? Memilih layangan saja harus yang baik dan Anda sukai baik bentuk maupun besarnya.

Ayo terbangkan layangan harapan Anda ke angkasa !!

Dandy Kurniadi
Motivator Bisnis Online

Terima Kasih, Bang

Tukang nasi goreng merupakan seorang penolongΒ  yang biasanya muncul pada malam hari. Dikala perut lapar dan makanan di rumah habis, ksatria nasi goreng aka mi tektek siap membantu Anda menghilangkan si lapar. Hahaha πŸ˜€

Saya memang tidak sering membeli nasi goreng di abang-abang yang biasanya memakai gerobak itu. Tapi didekat rumah orang tua saya (saya belum punya rumah :D) ada tukang nasi goreng yang terbilang ramai menurut saya. Terlebih jika hari kian gelap, orang-orang yang datang kian banyak untuk mengantri membeli berbagai macam makanan yang digoreng seperti nasi, mie dan kwetiauw. Lapar pak, lapar bu, lapar nyonya. Nah loh ? Jadi seperti anak jalanan yang suka berada di bus. Nanti kita bahas mereka pada sesi selanjutnya, hoho~

Berbicara soal si tukang nasi goreng itu, saya memang suka melihat dari sisi berbeda. Sisi yang pertama adalah saya kadang berpikir bahwa benar ya jika bisnis itu jangan terus melulu bermental seperti tukang nasi goreng. Kenapa gitu ? Ya memang mereka bisa meraup untung ratusan ribu dalam sehari dengan terus menggoreng, goreng, dan goreeeeng terus. Namun jika tukang nasi goreng itu SAKIT ? Alhasil ia takkan mendapat untung sama sekali pada hari itu. Ya berarti, mental tukang nasi goreng itu adalah mental hari ini. Tak kerja, tak akan dapat uang. Meskipun begitu, saya terkadang iri bahwa tukang nasi goreng dapat menghasilkan UANG lebih banyak daripada mahasiswa yang baru saja bekerja di perusahaan πŸ˜›

Di sisi yang kedua, saya senang memperhatikan tindak tanduk orang yang membeli di tukang nasi goreng tersebut. Oh ya, di tempat saya itu abang nasi gorengnya punya asisten loh 1 orang, luar biasa ya saking ramainya πŸ™‚ Nah ketika orang yang sudah memesan menerima pesanannya, tak jarang yang langsung saja pergi setelah membayar uang pesanannya. Hanya sedikit sekali yang mengucapkan “Terima kasih” kepada si tukang nasi goreng tersebut. Memang sih ada juga yang berterima kasih, tapi cuma sama si asisten penjualnya, bukan juga sama yang masak. Padahal keduanya sama-sama berjasa, malah yang goreng itu lebih berat kerjanya karena harus dekat penggorengan yang selalu panas serta berminyak.

” Terima kasih, bang.”

Saya suka mengatakan hal itu kepada si penggoreng dan si asisten. Bukan bermaksud sombong, tapi saya sendiri pun senang jika saya bekerja lalu orang berterima kasih. Bukankah setiap manusia itu wajib kita hargai dan hormati ? πŸ™‚ Begitu juga si abang nasi goreng. Dia sudah banyak berjasa bagi kita yang kelaparan di malam hari dan hanya punya uang yang pas-pasan serta mau makan yang berporsi banyak.

” Terima kasih banyak ya abang nasi goreng, semoga cepat punya cabang.”

Aamiin πŸ™‚

 

Dandy Kurniadi
Motivator Bisnis Online

 

Harga Waktu Hidupmu

Wah lucu sekali rasanya saya sebelum mau menulis artikel ini. Kenapa begitu ? Sebelumnya lagi saat ini saya sedang berada di dalam bus 106 dari Islamik menuju tempat seminar mas Ippho di Palmerah, Jakarta. Ah sudahlah, ini ceritanya ………..

Jam /9 nanti mas Ippho akan mengadakan seminar dan saya jadi panitia untuk membantu seminar beliau. Saya pun berangkat dari rumah jam 7 pagi ini (padahal briefing jam /8…hehe). Setelah di antar dari rumah sampai ke Islamic, saya pun naik bus paling depan di antrian. Terlihat bus 106 non ac yang berada disana. Saya pun naik dan duduk di barisan belakang.

Sekonyong-konyong laki-laki yang berada di belakang kiri saya berteriak dengan umpatan dan makian yang sangat tidak mengenakan di telinga. Anda tahu kenapa ia sebegitu marahnya ??

Ternyata pria itu begitu kesal karena bus tersebut begitu lama mengetem, saya pun belum tahu seberapa lama memang bus ini diam menunggu penumpang. Ia terus saja berteriak di dalam dan menyembulkan kepalanya keluar untuk memaki si kondektur juga.

Saya begitu ‘panas’ mendengar ocehannya yang begitu tidak terdidik. Lalu yang lucunya lagi disela omongannya ia berbicara :

” Woi lo cepetan dong jalan, lama banget ngetemnya. WAKTU saya terbatas nih.”

Wahahahahaha… Anda dapat membayangkan bagaimana wajah dan omongannya yang tidak sinkron itu. Bagaimana tidak, ia menginginkan waktu yang cepat tapi dengan naik bus umum ? Terlebih ia memprovokasi seluruh penumpang untuk turun.

Ckck… Memang benar kata Dandy TakoTaki :

” Jika kamu membiarkan emosimu mengendali, otakmu bagaikan tidak ada.”

Nah loh.. Benar saja, si pria tersebut menyuruh si supir dan kondektur untuk menjalankan bus, sementara ia seperti orang tidak tahu diri memaki dengan omongan yang sangat kasar !!!

Si kondekturpun terlihat sabar, luar biasa saya pikir. Saya saja yang didekatnya ingin sekali menghajar orang tersebut πŸ˜€ hahaha…

” Naik taksi saja pak kalau mau cepat.” Ujar si kondektur bus.

Tapi si pria tersebut tidak turun dan masih memaki didalam bus. Sungguh gila bin ajaib. Ia bagaikan tamu yang datang ke rumah Anda, lalu memaki Anda serta orang di dalam rumah tetapi masih minta disuguhkan minum dan makan, waw !!!!

Akhirnya selang 5 menit dari saya duduk di bus, kendaraan ini pun jalan. Dan Anda bisa tebak bahwa si pria itu masih duduk manis di dalam bus. Hmm…..

Yah, inti dari cerita nyata dan fresh saya di atas tadi adalah dengan menggaris bawahi dari segi waktu dan uang. Lucu memang, banyak orang yang ingin segalanya baik dan cepat tetapi enggan untuk membayar ‘harganya’. Baik itu tenaga, waktu ataupun uang.

Di lain sisi, saya miris menyaksikan kejadian ini karena masih sebegitu bobroknya pikiran dan mental manusia yang sudah bisa dibilang tua itu. Benar bahwa dewasa itu pilihan, dan tua itu pasti. Siapa yang tak bisa menghargai waktu, ia akan dipermainkan olehnya kelak.

Teman, jika memang waktu Anda sebegitu bergharganya, cobalah untuk mengaturnya lebih baik. Atau jika tidak bisa, Anda harus BERANI membayar harganya.

Jadi, berapa harga waktu Anda ?

@DandyKurniadi
Motivator Bisnis Online (MoBiLe)

Kemacetan Membuang Waktu

Siapa yang tinggal di Jakarta ? Percaya atau tidak, 70% penduduk Indonesia tinggal di Jakarta. Waw ! Suatu hal yang luar biasa menurut saya. Betapa tidak, hal inilah yang membuat Jakarta menjadi MACET. Semua orang tumpang tindih di jalan raya untuk mencari sesuap nasi dan segenggam berlian (cieeeeh).

Rasanya kemacetan ini sudah menjadi hal yang sangat klasik di Jakarta. Hal yang sangat disayangkan adalah kemacetan membuang waktu kita semua. Coba Anda bertanya kepada diri sendiri,

” Berapa jam dalam sehari saya terjebak macet ? ”

Sejauh saya bertanya kepada teman-teman saya yang bekerja di Jakarta, rata-rata mereka menjawab 1-3 jam dalam sekali jalan. Belum jika mereka pulang bekerja, bisa genap 3 sampai 5 jam sehari mereka terjebak macet yang membuang waktu kehidupan mereka.

Jadi, sampai kapan kemacetan membuang waktu kita semua ? Apakah teman-teman semua terus saja berharap kepada pemerintah untuk mengatasi kemacetan ini ?
Lalu, apakah yang sudah Anda lakukan untuk mengurangi kemacetan ? Beranikah Anda mengajak teman-teman 1 kantor Anda untuk membuat 1 hari dalam 1 minggu untuk memakai kendaraan umum ?

” Tidak akan ada perubahan tanpa perbuatan yang dilandasi keyakinan.”

( @DandyKurniadi )

Orang Bodoh Di Jalan

Sering sekali saya dibuat kesal sendiri oleh orang-orang yang tidak tertib dijalan. Hal ini mungkin disebabkan juga karena SIM mereka yang kebanyakan “nembak”, sehingga mereka tidak paham arti dari SIM tersebut.

Percayakah Anda, ada atau tidaknya rambu lalu lintas atau pun peraturan terkait tentang lalu lintas dijalan bukan menjadi penggerak utama seorang pengendara di jalan menjadi pengemudi yang baik dan benar ?

Tak usah berbicara mengenai negara lain yang sistem lalu lintasnya yang sudah lebih maju dan lebih “galak”. Di Indonesia sendiri masyarakatnya masih banyak yang “bodoh” mengenai peraturan di jalan. Malah yang lebih ironis, ada yang sudah tahu tapi pura-pura bodoh.

Contohnya seperti lampu lalu lintas yang menjadi warna merah di perempatan jalan. Tidak sedikit yang masih nekat untuk terus maju dan seenak jidat mereka bergerak. Mungkinkah mereka tidak mengerti apa arti dari lampu merah ??

Jadi, sayapun akhirnya menjabarkan sendiri beberapa kriteria orang “bodoh” dijalan itu :

1. Mengklakson pengendara di depannya yang berhenti karena lampu lalu lintas berubah merah. Terlebih pengendara yang memakai mobil dan orang di depannya adalah pengendara motor. Kadang mereka dengan tidak sopan membunyikan klakson agar motor itu jalan, padahal si supir mobil tahu bahwa saat itu lampu sedang merah. Sangat egois dan bodoh.

2. Parkir di tepi jalan yang ada rambu bertuliskan “P dengan tanda miring”.

3. Berhenti di tepi jalan yang bertuliskan “S dengan tanda miring”.

4. Memakai knalpot yang sangat berisik.

5. Masih memakai motor butut. Sebenarnya tidak apa-apa, tapi yang sangat disayangkan kebanyakan dari pemakainya juga bertindak “butut”. Secara mereka tidak menjaga kondisi mesin dan knalpot yang mengeluarkan asap yang sangat tebal dan bau. Terlebih kadang sambil merokok. Hmm….

6. Memakai HANDPHONE ketika sedang berkendara. Nah, hal ini yag paling sangat krusial saat ini. Terlebih banyak sekali pengendara motor yang sering sekali saya lihat. Tidakkah mereka berpikir nyawa mereka yang jadi taruhannya ketika melakukan hal tersebut ?

Saya rasa 6 hal itu sudah cukup mempresentasikan mengenai kelakuan bodoh pengendara di jalan yang bisa dibilang egois dan tidak beretika. Pun jika Anda pernah pergi ke Singapura, lihat saja sendiri sistem tranportasi dan etika pengendara disana. Sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan negara kita.

” Jalan raya ibarat nadi, pengendara ibarat darah bersih dan kotor yang perlu dijaga dan dibuang. “

(@DandyKurniadi)

You Got What You Paid

You Got What You Paid

This sentence remembering me about something that always connecting about MONEY. Whether is wrong or right, there’re so many people who want to get everything perfectly but he does not want to pay full or feeling so stingy to appreciating someone or team skill and experience to fulfill his want.

 

” Pay less, do More”

Is that fair for business ? If we are seeing from the customer mind, i’m sure there’s so many people who want it. For the example if you want to your own dream house. Then you hire some architect and developer for build and make your dream house being real. Your dream house is so beautifull and amazing. To build that house, it’s need a lot of skill and professionalism of experience. So, are you still thinking you will pay that architect and developer with cheap price but they MUST do the BEST for the result of your dream house ?

Don’t you think they’re concentrating just for your dream house ?

They pending their family day because you have a deadline for them. They spend their precious time for a full day just for fulfill your dream house.

They should defrayed their family, don’t you think ?

They invest a lot of money just to have a lot of knowledge for upgrade their skill, how do you think ?

Hmm…Which one is more important for you, your TIME or your MONEY ??

Maybe it can’t be compared, but i’m sure all of you will choose TIME if you have a lot of money πŸ™‚

Because what ? Because your time with family and all of the people who do you love most is more important than your money at the end πŸ™‚

So, if you want to make people happy just for the basic, you can pay them as same as their result. If they work is PERFECT or even beyond your expectation, will you pay them more ? Vice versa.

 

@DandyKurniadi

 

 

Ariesta Dwi Rahmadi

Ariesta Dwi Rahmadi adalah salah seorang dari sahabat saya di dunia nyata dan dunia maya πŸ˜€

Aris biasa ia dipanggil oleh teman-temannya.Β  Kepiawaiannya dalam bidang IT dan kebudayaan Jepang telah membuat saya menjadi semakin erat dalam mendalami hubungan bisnis. Walau saat ini saya baru mengajaknya untuk sinergi, saya terus menaruh kepercayaan serta harapan untuk semakin maju bersama dalam membangun Indonesia agar senantiasa melek kepada TEKNOLOGI yang berdasarkan internet sebagai medianya.

Terima kasih www.AriestaDwiRahmadi.com πŸ™‚

Kehidupan Supir Taksi

Tangerang, 2 September 2012 pukul 01.00 pagi.

Saya baru saja merebahkan kaki di kamar tercinta setelah seharian berkeliling Jakarta untuk mengerjakan bisnis yang sedang saya rintis. Alhamdulillah, saya masih diberi kesehatan oleh Ψ§ΩŽΩ„Ω„Ω‘Ω‡Ω SWT πŸ™‚

Tgl 1 jam setengah 12 malam tadi saya baru selesai acara di Jakarta Barat. Tak terasa memang waktu itu, tiba-tiba saja saya teringat bahwa bus menuju Tangerang sudah tidak ada lagi pada jam segitu. Akhrinyapun saya harus naik taksi (lagi) dari Slipi.

kehidupan-supir-taksi

Selang 5 menit saya menunggu, taksi pun saya cegat.

” Ke Tangerang ya bang” kata saya.

Taksipun melaju dengan mulus walau agak macet saat di kebon jeruk tadi karena perbaikan jalan. Tapi selepasnya jalanan lancaaaaar.

Ditengah jalan menuju Tangerang, seperti biasa saya mengajak ngobrol supir taksinya. Selain untuk memastikan supir taksinya baik (hehe), saya pun melakukannya agar tidak bosan hanya membisu di dalam taksi.

Perbincangan pun terus berlanjut, saya mulai bertanya seputar pendapatan yang supir taksi tersebut dapatkan. Ternyata ia mendapat uang berdasarkan setoran yang ia dapatkan setiap harinya. Tidak ada gaji bahkan tunjangan setiap bulannya. Waw baru tahu saya.

Beragam pertanyaan terus mengalir oleh rasa keingintahuan saya tentang kehidupan seorang supir taksi ini. Pada akhirnya saya mengetahui bahwa total pendapatannya tiap bulan tidak lebih dari 3- 4juta. Hmm, suatu angka yang tergolong kecil menurut saya di zaman sekarang ini. Terlebih ia sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang masih kecil. Ada rasa kesal bercampur sedih dalam diri saya. Kesal bercampur sedih ini karena pendapatan kotor si abang taksi perhari biasanya Rp 500ribu. Rp 200rb untuk setoran ke ‘markas’. 150rb untuk bensin. Sisanya ? Ya itu untuk si supir taksi tersebut setiap harinya.

Si supir taksi itupun terlihat menikmati pekerjaannya tersebut. Dia pun bercerita bahwa dari tahun 2002 dia sudah menjadi supir taksi di berbagai merek taksi yang ada di Jakarta. Pekerjaan ini menjadi lebih ia senangi karena ia bisa mendapat hak milik taksi tersebut dengan cicilan 6 tahun. Walau konsekuensinya ia harus membayar sendiri biaya perawatan si taksi dalam kurun waktu 6 tahun tersebut. Entah, itu adil atau tidak, yang jelas si supir taksi tersebut akan terus bertahan menjadi supir taksi karena 4 tahun lagi ia bisa mendapat taksi di perusahaan tempat ia bekerja saat ini.

Hei abang taksi, jikalau engkau memang mencintai apa yang kau lakukan saat ini. Teruskan dan nikmatilah πŸ™‚

Tetapi jika engkau mau kehidupan yang lebih baik. BERHENTILAH dan mulailah berbisnis πŸ˜€

Kenapa tidak ? 9 dari 10 pintu REZEKI kan ada di DAGANG πŸ˜‰

Tetap SEMANGAT πŸ™‚

@DandyKurniadi

Muhammad Daniyaal Hadzami

Muhammad Daniyaal Hadzami adalah seorang manusia luar biasa yang mempunya visi luar biasa πŸ˜€

Mahasiswa semester 5 dari Universitas Indonesia ini sangat bersemangat untuk membangun negeri Indonesia ini.

Pelabuhan Ratu

Sudah pernah dengar tentang daerah Pelabuhan Ratu ? Sebuah tempat yang terkenal dengan pantai berikut dengan cerita ratu pantai selatan. Pesona alam yang memesona dipadu dengan penduduknya yang ramah membuat Pelabuhan Ratu menjadi salah satu daya tarik untuk menjadi tujuan wisata orang Indonesia bahkan mancanegara.

Pelabuhan Ratu sendiri merupakan daerah kelahiran orang tua saya. Ibu dan ayah saya asli dari sini. Lahir dari desa yang mayoritas Islam dan berbahasa Sunda membuat orang tua saya semakin cinta terhadap salah satu daerah di Indonesia ini.

Ada beberapa hal yang menarik dapat kita telusuri di Pelabuhan Ratu ini. Apa sajakah itu ? Berikut hasil pengamatan saya selama pulang kampung di kota Pelabuhan Ratu ini πŸ˜€

1. Tempat Wisata

2. Bahasa Sunda

3. Budaya Desa

Tulisan selengkapnya akan saya sambung setelah yang satu ini πŸ˜‰