Kehidupan Supir Taksi

Tangerang, 2 September 2012 pukul 01.00 pagi.

Saya baru saja merebahkan kaki di kamar tercinta setelah seharian berkeliling Jakarta untuk mengerjakan bisnis yang sedang saya rintis. Alhamdulillah, saya masih diberi kesehatan oleh اَللّهُ SWT 🙂

Tgl 1 jam setengah 12 malam tadi saya baru selesai acara di Jakarta Barat. Tak terasa memang waktu itu, tiba-tiba saja saya teringat bahwa bus menuju Tangerang sudah tidak ada lagi pada jam segitu. Akhrinyapun saya harus naik taksi (lagi) dari Slipi.

kehidupan-supir-taksi

Selang 5 menit saya menunggu, taksi pun saya cegat.

” Ke Tangerang ya bang” kata saya.

Taksipun melaju dengan mulus walau agak macet saat di kebon jeruk tadi karena perbaikan jalan. Tapi selepasnya jalanan lancaaaaar.

Ditengah jalan menuju Tangerang, seperti biasa saya mengajak ngobrol supir taksinya. Selain untuk memastikan supir taksinya baik (hehe), saya pun melakukannya agar tidak bosan hanya membisu di dalam taksi.

Perbincangan pun terus berlanjut, saya mulai bertanya seputar pendapatan yang supir taksi tersebut dapatkan. Ternyata ia mendapat uang berdasarkan setoran yang ia dapatkan setiap harinya. Tidak ada gaji bahkan tunjangan setiap bulannya. Waw baru tahu saya.

Beragam pertanyaan terus mengalir oleh rasa keingintahuan saya tentang kehidupan seorang supir taksi ini. Pada akhirnya saya mengetahui bahwa total pendapatannya tiap bulan tidak lebih dari 3- 4juta. Hmm, suatu angka yang tergolong kecil menurut saya di zaman sekarang ini. Terlebih ia sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang masih kecil. Ada rasa kesal bercampur sedih dalam diri saya. Kesal bercampur sedih ini karena pendapatan kotor si abang taksi perhari biasanya Rp 500ribu. Rp 200rb untuk setoran ke ‘markas’. 150rb untuk bensin. Sisanya ? Ya itu untuk si supir taksi tersebut setiap harinya.

Si supir taksi itupun terlihat menikmati pekerjaannya tersebut. Dia pun bercerita bahwa dari tahun 2002 dia sudah menjadi supir taksi di berbagai merek taksi yang ada di Jakarta. Pekerjaan ini menjadi lebih ia senangi karena ia bisa mendapat hak milik taksi tersebut dengan cicilan 6 tahun. Walau konsekuensinya ia harus membayar sendiri biaya perawatan si taksi dalam kurun waktu 6 tahun tersebut. Entah, itu adil atau tidak, yang jelas si supir taksi tersebut akan terus bertahan menjadi supir taksi karena 4 tahun lagi ia bisa mendapat taksi di perusahaan tempat ia bekerja saat ini.

Hei abang taksi, jikalau engkau memang mencintai apa yang kau lakukan saat ini. Teruskan dan nikmatilah 🙂

Tetapi jika engkau mau kehidupan yang lebih baik. BERHENTILAH dan mulailah berbisnis 😀

Kenapa tidak ? 9 dari 10 pintu REZEKI kan ada di DAGANG 😉

Tetap SEMANGAT 🙂

@DandyKurniadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *