Mengertikah Arti Dari Rapatnya Saf Dalam Shalat ??

Halo apa kabar sobat ? 🙂

Malam yang sangat cerah juga syahdu. Di detik-detik akhir puasa ini, saya sangat bersyukur masih bisa diberi nikmat sehat juga nikmat iman atas apa yang Allah SWT berikan kepada saya. Alhamdulillah 🙂

Jika memang lusa lebaran, malam ini adalah hari terakhir umat islam tarawih di bulan Ramadhan ini. Tarawih di masjid memang sangat menyenangkan karena bisa bertemu banyak orang dan beribadah bersama untuk bermunajat kepada-Nya. Tapi kenapa ya, saya kadang masih suka tidak mengerti dengan para jemaah yang masih saja tidak rapat saf nya ?

Saya yakin, para jemaah yang biasa shalat di mesjid atau pun tidak pasti pernah sekali dua kali mendengar dan tahu bahwa jika mau shalat itu saf harus rapat dan lurus. Tapi kenapa masih saja renggang ? Bahkan parahnya ketika saya mencoba merapatkan kaki, mereka malah menyempitkan kaki mereka. Lantas sempurnakah shalat kami ?

Grrrr.. Kadang saya kesal sendiri. Jelas-jelas sang imam sudah bilang,

” Rapatkan saf dan barisannya. Luruskan biar shalatnya sempurna. ”

Eeeh masih saja renggang. Ampun deh ego nya. Atau merasa tidak terlalu penting ya menuruti kata Imam ?? Mau jitak rasanya, kadang yang sudah tua pun sama saja. Inilah yang saya sayangkan dari kurangnya pemahaman banyak masyarakat Indonesia atas segala sesuatu yang mereka kerjakan. Terlebih dalam shalat, masih banyak sekali orang yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban tanpa benar-benar mau memahami esensi sebenarnya dari apa yang sedang mereka kerjakan.

Dalam buku yang saya baca tentang Shalat, diceritakan bahwa banyak sekali orang yang shalat tapi tidak diterima. Bahkan ada cerita yang mengisahkan tentang seorang yang ahli ibadah, namun selama 60 tahun ia hidup pahala shalatnya tidak diterima. Masya Allah.

Walau dengan ilmu saya yang masih cetek ini belum bisa merubah banyak orang, setidaknya saya terus belajar untuk memperbaiki kualitas diri saya. Terutama dengan memahami atas segala sesuatu yang saya kerjakan. Jangan sampai sia-sia ataupun tidak maksimal. Seperti pelaksanaan shalat berjamaah tadi.

Kesempurnaan hanya milik Allah, tapi kita sebagai makhluknya haruslah senantiasa terus memperbaiki diri dan terus belajar. Bukan menjadikan alasan tidak sempurna sebagai batu hambatan bahwa Anda tidak bisa menjadi insan yang luar biasa.

Tetap SEMANGAT 😉

Dandy Kurniadi TakoTaki
@TakoTakiBuddy
Motivator Bisnis Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *