Cerita ini akan menjadi awalan saya dalam memperkenalkan isi dari buku “… DANDY” yang akan saya luncurkan beberapa saat lagi (nah loh).

Oke langsung saja….

Cerita ini berawal dari kesadaran saya yang memang ingin menjadi seseorang yang terkenal. Perasaan itu mulai timbul ketika saya mulai duduk di bangku SMP. Entah terkenal dalam hal apa, yang penting saat itu saya ingin TER…KE…NAL pokoknya.

Saya bukanlah orang yang banyak prestasi di waktu saya masih bersekolah dulu. Dari TK sampai masuk SMA, rasanya bisa dihitung berapa jumlah prestasi yang sudah saya dapatkan. Itu juga bukan menjadi juara 1 seperti yang orang lain kira dalam hal “mendapat prestasi”.

Namun saya lebih senang bercerita ketika saya sudah mulai memasuki bangku kuliah. Sebuah masa transisi dari seorang siswa menjadi mahasiswa. Dari seseorang yang cenderung berada di ruang lingkup yang serba banyak aturan (formal), kemudian saat mendapat tambahan sebutan “maha” dan ditambah berada di lingkungan yang cenderung bebas bersayarat (tetap saja ada aturan di Universitas) rasanya pikiran menjadi lebih bebas dalam bereksplorasi dan berkreasi. Memilih jalan hidup yang disukai dan bisa lebih banyak basa basi jika memang tetap dalam koridor yang berlaku (berat ya bahasanya? Maklum, mahasiswa gitu, hehe).

Saat mulai semester 6, saya telah memutuskan untuk serius berbisnis. Meskipun belum benar-benar serius, namun saya sudah mendeklarasikan ke diri saya sendiri bahwa saya harus menjadi seorang entrepreneur sungguhan ketika saya sudah selesai kuliah nanti.

Hal ini saya buktikan dengan menciptakan sebuah merek yang bernama “TakoTaki”. Awalnya karena saya bingung mencari nama, kebetulan saat itu saya sedang menyukai sebuah makanan Jepang yang bernama takoyaki. Akhirnya saya plesetkan nama makanan tersebut menjadi “TakoTaki” untuk menjadi nama dari bisnis pertama yang saya seriuskan. Kemudian tak berselang lama, akhirnya nama tersebut ternyata memang punya sebuah arti, yaitu “oTAK kanan, OTAk KIri”.

dandy-kurniadi-takotaki

Tak bermasud berpromosi, merek bisnis TakoTaki yang mempunyai arti otak kanan otak kiri ini saya dapatkan ilhamnya ketika saya mengikuti seminar mas Ippho sang pakar otak kanan. Dari situ saya mendapat pengetahuan baru bahwasanya otak kita terbagi menjadi 2 bagian, tidak lain tidak bukan adalah TakoTaki, eeeh maksud saya otak kanan dan otak kiri πŸ˜€

Meski di pelajaran Biologi saya sudah belajar tentang bagian otak tersebut, hal yang saya dapatkan mengenai ilmu otak dalam seminar itu bukanlah sebatas hanya kandungan saja, namun lebih kepada betapa pentingnya kita mengetahui potensi dari setiap bagian otak di dalam kepala kita, yang paling saya ingat dalam seminar tersebut adalah :

” Mulailah dari yang kanan. Ya, mulailah dengan otak kanan, baru otak kiri.”

Jeggger!! Mulai saat itu saya menjadi lebih nganan. Saya lebih berani karena saya sudah mulai memahami bagaimana saya memulai untuk mewujudkan impian-impian saya.

” Saya akan mulai dengan TakoTaki !!!! ”

” Dari otak kanan, lalu otak kiri. Aksi dulu, baru teori ! Sempurnakan sambil jalan ! ” Ujar saya waktu itu dengan semangat 45′

Wah, serasa lagi baca novel ya ? Ahaha maklum saya masih amatir dalam menulis, jadi yang penting saya menulis saja dulu. Nanti juga bener sendiri, kan pakai ilmu “TakoTaki” πŸ˜‰

Kemudian saya pun lebih banyak untuk berkhayal tentang impian-impian yang ingin saya dapatkan nantinya. Hal pertama yang saya ingat adalah saya mulai dari mimpi untuk menjadi seorang pembicara dengan berbasis kesuksesan dari bisnis yang sudah saya jalani. Jadinya nanti saya akan berbicara lebih kepada pengalaman, bukan hanya sekedar motivasi dan teori belaka.

Lalu pada akhir semester 6 atau semester 7 (saya agak lupa), jurusan Manajemen yang saya ambil ternyata tidak ada program magang. Sehingga sebagai penggantinya, saya dan teman-teman jurusan diwajibkan untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) di Jakarta selama 3 hari.

Dalam pelatihan tersebut, saya sempat berfoto dengan gaya seolah saya sedang menjadi seorang pembicara.

dandy-seminar-ppei-jakarta

Memang pada saat itu sedang sesi break dan para peserta pelatihan diwajibkan untuk memakai pakaian formal selama acara berlangsung. Dengan bermodal sedikit nekat campur takut, saya memberanikan diri meminta teman saya Chrisma untuk memfoto saya dengan gaya di atas. Dan hasilnya ? Anda bisa lihat sendiri saya terlihat kece lah ya πŸ˜€

Saat itu saya tak terlalu berpikir bahwa foto tersebut akan menjadi cerita dari perjalanan hidup saya dalam meraih salah satu cita-cita saya, yaitu menjadi seorang pembicara.

Ketika saya mengetik ini, saya langsung bernostalgia sejenak betapa hidup itu memang indah jika kita bisa mewujudkan semua mimpi-mimpi kita yang terpikir mungkin hanya benar sebatas mimpi saja. Tapi dengan melihat diri saya yang saat ini telah BERHASIL menjadi seorang pembicara dibidang yang saya impikan saat itu, saya merasa seperti “hidup kembali”. Ya, hal ini karena impian saya ternyata telah menjadi kenyataan, alhamdulillah.

Ternyata harapan saya dengan berfoto seperti itu mulai membuat saya semakin bersemangat. Meski saat itu saya masih bingung dalam berencana, saya tetap berambisi untuk tetap bisa menjadi orang terkenal, setidaknya mulai dengan menjadi pembicara yang saya idam-idamkan itu.

Selang beberapa minggu, ternyata saya dipanggil oleh ketua jurusan (kajur) Manajemen dan pihak dekanat fakultas ekonomi ke ruangan mereka. Disitu saya mendapat sebuah berita bahwa saya ……………………………..

Bersambung

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear formPost comment