Sebuah Kepercayaan

Pernah dengar kalimat bijak ?

“Butuh bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan, namun hanya butuh beberapa detik untuk menghancurkannya.”

Mungkin ada beberapa dari Anda yang pernah mengalami sendiri kalimat di atas.  Memang betul tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan seseorang, namun akan jauh lebih sulit lagi untuk mengembalikan kepercayaan seseorang yang telah kita rusak.

Kepercayaan merupakan sebuah kertas putih yang mulus. Ketika kertas itu kita genggam atau tidak sengaja kita lipat, maka ia tidak akan mulus lagi. Orang bilang kertasnya jadi lecek. Mau kita perbaiki pun tidak akan bisa jadi semulus pertama kali kertas itu kita dapatkan.

Saya jadi teringat tentang kisah dosen saya yang bercerita bahwa ia harus rela melepaskan perusahaannya karena partner kesayangannya telah “menusuk” ia dari belakang. Semua sahamnya di ambil alih oleh partnernya, alhasil ia tidak bisa lagi terjun di dalam perusahaan tersebut. Sungguh ironis, ketika kepercayaan menjadi sesuatu yang disalah gunakan oleh orang yang kita kenal sejak lama.

Saya sendiri merupakan tipe orang yang sulit untuk percaya kepada orang lain. Selain saya yang memang perfeksionis dalam mengerjakan suatu hal, saya cenderung harus bergaul dan bersua dengan waktu yang lama dengan seseorang untuk mendapatkan kepercayaan dari saya.

sebuah-kepercayaan-dandy

Hal ini pun menyangkut soal bisnis yang saya jalankan. Saat ini saya mempunyai beberapa partner untuk mengembangkan bisnis jasa pembuatan website saya. Sungguh bahagia karena salah satu mimpi saya terwujud dengan adanya kehadiran mereka. Kepercayaan saya pun larut dalam diri mereka. Saya pun tidak segan-segan untuk membuka modal saya dalam berbisnis. Bahkan transfer ilmu pun saya beri gratis karena saya mempercayai mereka untuk sukses bersama.

Sebuah kepercayaan layaknya sebuah bumerang jika kita tidak bisa “melemparkannya” di waktu yang tepat. Bahkan bagi yang sulit mempercayai seseorang seperti saya pun harus lebih sering belajar untuk menurunkan ego dan mulai memberi kepercayaan sedikit demi sedikit.

Saya memang bukan manusia yang sempurna, namun saya berusaha untuk mencintai apa yang saya lakukan dengan cara yang sempurna. Sadar atau tidak, dalam hidup ini kita selalu menjual dan membeli kepercayaan setiap harinya.

Misal kita membeli makanan di pasar, pernahkah Anda bertanya kepada si penjual :

” Bang, saya percaya Anda, Makanya saya beli disini.”

Saya yakin Anda pasti jarang untuk mengatakannya. Secara tidak sadar kita telah menaruh kepercayaan kepada banyak orang karena kita sudah terbiasa atau pun karena kita merasa nyaman dengan mereka. Itulah jual beli kepercayaan yang mungkin banyak dari kita yang tidak sadar.

Di lain sisi, pastinya Anda pernah kecewa sampai naik pitam karena orang yang Anda percayai berkhianat kepada Anda. Jika dalam kasus penjual tadi, mungkin saja ia memberikan barang yang tidak semestinya ia beri kepada Anda. Sesuatu yang tidak biasanya ia lakukan.

Kecewa ?

Ya mungkin saja, namun kadang kita pun harus bisa memaafkan hal tersebut. Bisa saja orang disekitar kita khilaf atau memang sedang ada masalah. Sesekali memaafkan perlu, namun jika terjadi terus bagaimana ?

Guru saya mas Ippho bilang :

” Kalau ada partner atau orang lain yang mengecewakan Anda, maafkanlah ia. Namun sehabis itu tinggalkan saja.”

Saya pribadi setuju dengan dia, agak sadis sih, hehe. Namun yang penting kita sudah memaafkan dan juga sudah ikhlas. Daripada pusing, mending mencari orang lain yang bisa kita percayai lebih baik dari yang dulu sudah merusakkan kepercayaan kita.

Ya, inilah sebuah curhatan saya mengenai sebuah kepercayaan. Rasanya ingin menangis juga tersenyum jika membayangkan atas apa yang sudah masing-masing kita semua alami dengan membawa sebuah kata yang bernama, kepercayaan 🙂

@DandyKurniadi
Manusia Yang Ingin Bermanfaat Bagi Orang Lain Dengan Jalan Berwirausaha

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *