Terima Kasih, Bang

Tukang nasi goreng merupakan seorang penolongΒ  yang biasanya muncul pada malam hari. Dikala perut lapar dan makanan di rumah habis, ksatria nasi goreng aka mi tektek siap membantu Anda menghilangkan si lapar. Hahaha πŸ˜€

Saya memang tidak sering membeli nasi goreng di abang-abang yang biasanya memakai gerobak itu. Tapi didekat rumah orang tua saya (saya belum punya rumah :D) ada tukang nasi goreng yang terbilang ramai menurut saya. Terlebih jika hari kian gelap, orang-orang yang datang kian banyak untuk mengantri membeli berbagai macam makanan yang digoreng seperti nasi, mie dan kwetiauw. Lapar pak, lapar bu, lapar nyonya. Nah loh ? Jadi seperti anak jalanan yang suka berada di bus. Nanti kita bahas mereka pada sesi selanjutnya, hoho~

Berbicara soal si tukang nasi goreng itu, saya memang suka melihat dari sisi berbeda. Sisi yang pertama adalah saya kadang berpikir bahwa benar ya jika bisnis itu jangan terus melulu bermental seperti tukang nasi goreng. Kenapa gitu ? Ya memang mereka bisa meraup untung ratusan ribu dalam sehari dengan terus menggoreng, goreng, dan goreeeeng terus. Namun jika tukang nasi goreng itu SAKIT ? Alhasil ia takkan mendapat untung sama sekali pada hari itu. Ya berarti, mental tukang nasi goreng itu adalah mental hari ini. Tak kerja, tak akan dapat uang. Meskipun begitu, saya terkadang iri bahwa tukang nasi goreng dapat menghasilkan UANG lebih banyak daripada mahasiswa yang baru saja bekerja di perusahaan πŸ˜›

Di sisi yang kedua, saya senang memperhatikan tindak tanduk orang yang membeli di tukang nasi goreng tersebut. Oh ya, di tempat saya itu abang nasi gorengnya punya asisten loh 1 orang, luar biasa ya saking ramainya πŸ™‚ Nah ketika orang yang sudah memesan menerima pesanannya, tak jarang yang langsung saja pergi setelah membayar uang pesanannya. Hanya sedikit sekali yang mengucapkan “Terima kasih” kepada si tukang nasi goreng tersebut. Memang sih ada juga yang berterima kasih, tapi cuma sama si asisten penjualnya, bukan juga sama yang masak. Padahal keduanya sama-sama berjasa, malah yang goreng itu lebih berat kerjanya karena harus dekat penggorengan yang selalu panas serta berminyak.

” Terima kasih, bang.”

Saya suka mengatakan hal itu kepada si penggoreng dan si asisten. Bukan bermaksud sombong, tapi saya sendiri pun senang jika saya bekerja lalu orang berterima kasih. Bukankah setiap manusia itu wajib kita hargai dan hormati ? πŸ™‚ Begitu juga si abang nasi goreng. Dia sudah banyak berjasa bagi kita yang kelaparan di malam hari dan hanya punya uang yang pas-pasan serta mau makan yang berporsi banyak.

” Terima kasih banyak ya abang nasi goreng, semoga cepat punya cabang.”

Aamiin πŸ™‚

 

Dandy Kurniadi
Motivator Bisnis Online

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *